Sobat Ngobi pasti sudah tidak asing lagi dengan slogan “an ojek for every needs” bukan? Satu slogan yang terpajang di bagian belakang jaket pengemudi transportasi online sejuta umat yaitu Go-Jek. Membincang tentang Go-Jek tidak akan pernah lepas dari sosok pendirinya, Nadiem Makarim. Sukses menjalani pendidikan di luar negeri tak membuat Nadiem lupa diri, ia kembali ke Indonesia untuk bisa berkontribusi bagi tanah air. Menerima penghargaan Asian of The Year dan The Bloomberg 50 membuat namanya sejajar dengan tokoh-tokoh dunia seperti Presiden Meksiko; Andres Manuel Lopez Obrador, pendiri Spotify, atau penyanyi terkenal Taylor Swift dan BTS. Hal ini semakin memantapkan Nadiem menjadi satu sosok pengusaha muda sukses Indonesia yang mampu membuat satu terobosan dan mengubah kehidupan di Indonesia dengan cepat. Lalu bagaimana sepak terjang Nadiem merintis dan mengembangkan usahanya?

Seperti Apa Kisah Inspiratif Nadiem Makarim

Anyone can steal your idea, but no one can steal your execution.

NADIEM MAKARIM

1. Bukan Terlahir dari Keluarga Pengusaha

Jika beberapa pengusaha sukses terlahir dari keluarga pengusaha juga, maka tidak dengan Nadiem. Pria bernama lengkap Nadiem Anwar Makarim ini berasal dari keluarga dengan latar belakang yang jauh dari dunia bisnis. Sang ayah, Nono Anwar Makarim dikenal sebagai seorang aktivis dan pengacara terkemuka. Sedangkan sang ibu, Atika Algadri diketahui sebagai seorang penulis lepas yang juga merupakan putri salah satu perintis kemerdekaan Indonesia, Hamid Algadri.

Bisa dikatakan bahwa Nadiem adalah satu-satunya anggota keluarga yang bergerak di dunia entrepreneurship. Meskipun memiliki pekerjaan dan minat yang berbeda, ia memiliki orangtua yang selalu mendukung usahanya.

2. Didikan Untuk Tidak Lupa Diri 

Sebagian besar waktu pendidikan Nadiem dihabiskan di luar negeri. Ia sempat berpindah-pindah SMA dari Jakarta ke Singapura dan menyelesaikannya di sana. Selepas lulus SMA, Nadiem memilih jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat serta meneruskan gelar pasca-sarjananya di Harvard Business School. Tak hanya itu, Nadiem bahkan sempat mengikuti foreign exchange di London School of Economics. Meskipun begitu, sejak kecil Nadiem dididik untuk dapat kembali dan berkontribusi bagi tanah air.

“Saya dididik dari kecil untuk kembali dan berkontribusi ke Tanah Air, walaupun seumur hidup lebih sering sekolah di luar negeri. Orangtua saya sangat nasionalis, dan karena itu passion saya untuk Indonesia sangat besar,” ungkapnya.

Rasa cinta Tanah Air memang harus kita miliki ya Sobat Ngobi, terlepas dimana saja kita menempuh pendidikan. 

3. Berkarir di Indonesia

Sebelum menempuh pasca-sarjananya di Harvard, Nadiem sempat memasuki dunia kerja. Nadiem mengawali kariernya sebagai seorang konsultan manajemen di McKinsey & Company. Sepulang dari Harvard, Nadiem terjun kembali sebagai pengusaha dengan menjadi co-founder Zalora Indonesia merangkap sebagai managing editor.

Setelah memutuskan keluar dari Zalora, ia menjabat sebagai Chief Innovation Officer Kartuku, dan sekarang seperti yang kita kenal sebagai pendiri dan CEO Go-Jek.

4. Sosok di Balik Go-Jek

Seperti yang sudah kami sampaikan di awal ya Sobat Ngobi, membicarakan Go-Jek tidak akan terlepas dari Nadiem Makarim. Go-Jek adalah Nadiem, begitu juga sebaliknya.

Kecanggihan inovasi transportasi yang kita nikmati setiap hari ini ternyata berawal dari keresahan Nadiem. Nadiem yang saat itu tengah bekerja di ibukota lebih sering menggunakan jasa ojek ketimbang mobil pribadi dikarenakan mobilitas yang tinggi dan berhadapan dengan kemacetan Jakarta. Nadiem mengandaikan jika saja ada layanan transportasi yang cepat dan praktis pasti bisa membantu warga Jakarta. Menggandeng beberapa tukang ojek langganannya, Nadiem mewujudkan idenya dengan mendirikan Go-Jek.

Go-Jek resmi beroperasi pertama kali pada tahun 2011 bersama 20 tukang ojek dengan sistem call center dan telah berkembang menjadi sebuah layanan “an ojek for every needs” yang berkembang begitu cepat.

5. Solutif Memanfaatkan Teknologi

Berdasarkan pengamatan Nadiem yang hampir setiap hari menggunakan jasa ojek, ia melihat bahwa sebagian besar waktu tukang ojek hanya dihabiskan di pangkalan menunggu penumpang. Hal ini dianggap Nadiem sebagai satu hal yang kurang efektif karena terkadang banyak orang membutuhkan jasa ojek namun tak bisa menemukan satu pun yang lewat karena jauh dari pangkalan. Hal ini membuat Nadiem berpikiran tentang sebuah layanan transportasi yang cepat dan praktis untuk sebuah solusi.

Melalui Go-Jek, Nadiem membuat satu layanan transportasi yang bisa memudahkan tukang ojek bertemu dengan calon penumpang. Berawal dengan sistem call center, Go-Jek membuat perkembangan dengan lagi-lagi memanfaatkan teknologi yaitu melalui mobile apps. Setelah mendapatkan suntikan dana dari perusahaan investasi asal Singapura (Northstar Group, Redmart Limited, dan Zimplistic Pte Ltd), Go-Jek resmi meluncurkan aplikasi mobilenya di tahun 2015. Di tahun inilah Go-Jek menarik perhatian seluruh masyarakat Indonesia dengan layanan transportasi online yang memberi banyak kemudahan untuk pelanggan.

Apakah Sobat Ngobi termasuk salah satu pelanggan Go-Jek yang mendapat kemudahan?

6. Sempat Dianggap Tak Waras

Dengan idenya ini, Nadiem sempat dianggap tak waras. Anggapan ini justru datang dari “driver 001”, Mulyono yang menjadi pengemudi pertama di Go-Jek. Mulyono sendiri adalah salah satu tukang ojek pangkalan di dekat rumah Nadiem yang tertarik mendaftar jadi mitra Go-Jek. Mulyono tidak mengira jika Go-Jek akan menjadi sebesar ini. Ia kembali teringat keyakinan Nadiem bahwa Go-Jek akan dikenal masyarakat Indonesia, dan Nadiem pun membuktikan keyakinannya.

“Saya anggap Nadiem nggak waras. Spontan waktu itu saya bilang ‘ah ngaco’ kepada Nadiem” ungkap Mulyono.

Berawal hanya dengan 20 pengemudi, sekarang berkembang menjadi puluhan ribu dan merambah ke negara lain seperti Singapura dan Vietnam. Tidak hanya untuk transportasi saja, Go-Jek pun membuat layanan berupa pembayaran online yang begitu memudahkan.

7. Memberi Perubahan Kehidupan di Indonesia dengan Cepat

Bagi Nadiem, Go-Jek tak hanya sebuah bisnis semata melainkan memiliki satu misi sosial. Selain ingin memberikan satu layanan transportasi yang cepat dan proaktif, Nadiem pun bermimpi bisa ikut meningkatkan pendapatan para tukang ojek di Jakarta saat itu.

Dengan adanya Go-Jek, terbukalah banyak lapangan pekerjaan untuk beberapa orang yang memang membutuhkan pekerjaan sampingan. Selain sebagai pengemudi, beberapa fitur Go-Jek pun memberikan kemudahan pagi penyedia jasa/konsumsi seperti makanan, salon, cleaning service, dan yang lainnya untuk bertemu dengan pelanggannya dengan cepat. Hal ini membawa dampak yang begitu masif untuk masyarakat Indonesia karena Go-Jek seperti sebuah jembatan yang menghubungkan produsen, distributor, dan konsumen dengan cepat dan tepat. Terlebih lagi dengan tarif Go-Jek yang terjangkau dan mengutamakan keamanan, membuat Go-Jek begitu ramah untuk semua kalangan.

8. Penyabar dan Hobi Belajar 

Pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984 ini dikenal sebagai seorang yang penyabar dan hobi belajar. Go-Jek adalah salah satu buah kesabaran dari seorang Nadiem mewujudkan mimpinya. Go-Jek bukanlah satu hal yang instan, ia benar-benar membangunnya dari sebuah keresahan yang berakhir dengan sebuah solusi.

Belajar dari kondisi sekitarnya saat itu, Nadiem berani mengambil langkah untuk sebuah masalah dimana oranglain masih berkutat hanya pada mengeluh saja. Berbincang dan mengambil pelajaran dari kehidupan tukang ojek, membuat Nadiem melihat sebuah peluang usaha.

Ketepatan momentum yang Nadiem buat melalui penggabungan layanan transportasi dengan kecanggihan teknologi membuat Nadiem dan Go-Jek menjadi sesukses ini.

9. Mengantongi Penghargaan Bergengsi 

Kesabaran seorang Nadiem membangun Go-Jek kini membuat ia masuk dalam daftar The Bloomberg 50 dimana namanya sejajar dengan tokoh-tokoh ternama dalam bidang bisnis, hiburan, politik, keuangan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi seperti Daniel Ek pendiri Spotify, Presiden Meksiko, Andres Manuel Lopez Obrador, penyanyi kenamaan Taylot Swift dan BTS.

Tak hanya itu, Nadiem pun meraih penghargaan Asian of The Year sebagai individu paling berpengaruh di Asia oleh The Strait Times pada 2016.

10. Mengutamakan “Pentingnya Orang”

Dalam acara Google for Indonesia yang digelar di Jakarta, Nadiem menuturkan bahwa hal utama yang ia pelajari adalah pentingnya orang. Menurutnya, keputusan meletakkan orang yang tepat untuk mengurus satu hal tertentu adalah sebuah tindakan yang krusial. “Tidak memaksa orang melakukan sesuatu yang mungkin bisa ia lakukan dengan bagus, tapi pada hal ia memiliki passion di dalamnya,” tutur Nadiem.

Bagi Nadiem, bisnis tak hanya perkara angka atau pun uang, tapi menekankan pada sikap bersyukur dan terus mau belajar serta hubungan yang baik dengan orang lain. Hal ini dapat kita lihat dari bagaimana Nadiem mengelola Go-Jek dimana keamanan dan penilaian sikap menjadi sebuah prioritas untuk pelanggan maupun mitra/pengemudi Go-Jek.

Untuk pertanyaan hari ini, Apakah latar belakang keluarga membuat Sobat Ngobi terpengaruh dalam memulai sebuah usaha?

Leave a comment